UPT Pelatihan Kementan Beri Pelatihan Hilirisasi Komoditas Hortikultura bagi Masyarakat Subang Terdampak Tol

LEMBANG – Kementerian Pertanian (Kementan), melalui Balai Besar Pelatihan Pertanian (BBPP) Lembang, bekerja sama dengan Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat, melalui OCG Associates, melatih masyarakat terdampak pembangunan Jalan Tol Akses Patimban di Kabupaten Subang. Kegiatan bernama Pelatihan Olahan Keripik Singkong dan Pisang, dilaksanakan di masing-masing desa terdampak dengan widyaiswara BBPP Lembang sebagai fasilitator.


Kunjungan lapang pelatihan dilaksanakan di Laboratorium Pengolahan Hasil Pertanian BBPP Lembang, Kamis (20/2/2025).

Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman, mengatakan pangan merupakan kebutuhan dasar bagi lebih dari 280 juta penduduk Indonesia. "Saya selalu katakan tanpa pangan sebuah negara itu bisa hancur karena nantinya akan terjadi konflik sosial antar masyarakatnya," kata Mentan Amran.

Untuk mendukung kebutuhan pangan tersebut, Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian (BPPSDMP) menggenjot kualitas SDM pertanian yang menjadi faktor utama untuk mengungkit produksi pangan.

Kepala BPPSDMP, Idha Widi Arsanti, juga mengajak seluruh insan pertanian untuk meningkatkan produksi pertanian. "Mari kita bergerak bersama meningkatkan produksi dan produktivitas pangan," ajaknya.

Pada kunjungan lapangan ini, 21 orang peserta dibagi 3 kelompok dan dipandu widyaiswara serta petugas laboratorium. Mereka mempraktikkan salah satu olahan pisang yang menjadi produk unggulan BBPP Lembang, yaitu eggroll pisang.

Pertama-tama, diberikan penjelasan alat dan bahan, dilanjutkan praktik membuat eggroll pisang mulai dari pencampuran semua bahan menjadi adonan dan mencetak adonan di mesin pencetak eggroll, memasukkannya ke dalam kemasan. Peserta lalu diberikan materi tentang pembuatan label produk yang di dalamnya memuat komposisi produk dan merk produk sehingga nantinya dapat meningkatkan nilai jual.

Widyaiswara BBPP Lembang juga memberikan materi analisa usahatani, dengan menganalisa biaya tetap, biaya tidak tetap dari usaha olahan keripik singkong dan pisang ini. Disampaikan pula penerimaan yang akan diperoleh dan pendapatannya sehingga bisa dianalisa kelayakan usahanya.

Setelah itu, dilakukan kegiatan pelepasan pelatihan oleh Kepala BBPP Lembang, Ajat Jatnika, dan dihadiri tim manajemen dan widyaiswara serta Team Leader Program Pemulihan Mata Pencaharian (LRP), Neneng Nurbaeti Amien.

Neneng menyampaikan peserta merupakan ibu rumah tangga. "Setelah pelatihan ini diharapkan peserta terinspirasi karena telah memiliki bekal ilmu untuk memulai usaha olahan pisang dan singkong dan diharapkan memperoleh keuntungan dari olahan usaha tersebut," katanya.

Neneng juga menjelaskan bahwa program pemulihan mata pencaharian ini bertujuan meminimalkan dampak adanya pembangunan jalan tol yang menyebabkan warga harus realokasi tempat tinggal. "Diharapkan dengan tempat tinggal baru, suasana baru dengan fasilitas yang lebih baik, warga lebih semangat memulai usaha sehingga dapat memulihkan mata pencahariannya," kata Neneng.

Kepala BBPP Lembang, Ajat Jatnika saat melepas kegiatan pelatihan, menyampaikan jika pangan sangat penting untuk terus diupayakan. "Hilirisasi pertanian melalui pengolahan hasil pertanian mampu meningkatkan nilai tambah produk, untuk orientasi ekonomi mampu meningkatkan pendapatan. Karena itu bisa menjadi peluang bisnis yang menguntungkan," jelasnya.

Ajat juga mengingatkan para peserta agar bisa membentuk organisasi kelembagaan, minimal kelompok tani, karena ini akan membawa banyak keuntungan mulai dari akses permodalan dan kemudahan akses pasar.

Rangkaian pelatihan dilanjutkan praktik mandiri oleh setiap peserta sesuai rencana tindak lanjut yang disusun. BBPP Lembang dan OCG Associates akan terjun langsung ke lapangan melakukan pendampingan hingga produk olahan keripik singkong dan pisang ini mampu dijual dan memberikan keuntungan bagi peserta pelatihan. Harapan dari kegiatan kerja sama ini, dampak pelatihan dirasakan oleh semua peserta yaitu peningkatan taraf hidupnya melalui aktivitas hilirisasi komoditas hortikultura.