Pare: HABIS PAHIT, PENYAKIT DIBUANG
Sungguh memprihatinkan, tingkat konsumsi masyarakat Indonesia akan sayuran masih relatif rendah, yaitu sekitar 37,30 kg per kapita per tahun.
Kondisi ini jauh dibawah standar FAO yang merekomendasikan konsumsi sayuran senilai 65 kg/kapita/tahun. Untuk menggenjot hal tersebut, Pemerintah melalui Gerakan Makan Sayuran (GEMA Sayuran) terus berupaya merangsang masyarakat untuk gemar makan sayuran.
Indonesia, sebagai salah satu negara tropis, memiliki beragam jenis sayuran yang dapat dikonsumsi untuk memenuhi kebutuhan nutrisi, utamanya vitamin dan mineral. Menurut data yang tersedia di Balai Penelitian Sayuran (Balitsa), tidak kurang dari 87 jenis sayuran yang dikembangkan di Indonesia, antara lain: genjer, pepaya, godobos, kemandilan/jonge, kenikir, sintrong, selada air, baligo, gambas/oyong, labu kuning, kemangi, keresmen, selasih, koro, krokot, kelor, cincau, simbukan, takokan, kangkung dan pare.
Pare (Momordica charantia L.) selain bentuknya yang unik, panjang dengan kulit yang kasar seperti berduri juga dikenal sebagai sayuran yang pahit rasanya. Walaupun dahulu relatif masih sedikit masyarakat yang mengkonsumsinya, namun belakangan ini semakin banyak orang mencoba mencicipi dan menjadikan pare sebagai sayuran favoritnya.
Kandungan kimiawi secara lengkap dalam buah pare adalah albiminoid, karbohidrat dan zat warna. Daunnya mengandung momordisina, momordikna, karantina, resin, dan minyak lemak. Akarnya mengandung asam momordial dan asam oleanolat. Bijinya mengandung saponin, alkaloid, triterprenoid dan asam momordial. Dibalik rasanya yang pahit itu, terkandung sederetan khasiat dan manfaat yang dapat diperoleh. Coba kita telisik satu per satu.

Kandungan kimiawi secara lengkap dalam buah pare adalah albiminoid, karbohidrat dan zat warna. Daunnya mengandung momordisina, momordikna, karantina, resin, dan minyak lemak. Akarnya mengandung asam momordial dan asam oleanolat. Bijinya mengandung saponin, alkaloid, triterprenoid dan asam momordial. Dibalik rasanya yang pahit itu, terkandung sederetan khasiat dan manfaat yang dapat diperoleh. Coba kita telisik satu per satu.
Buah pare diketahui dapat merangsang nafsu makan, menyembuhkan penyakit kuning, memperlancar pencernaan, memperbanyak air susu ibu (ASI), mengurangi nyeri saat haid, mengobati sariawan dan ambeien, menekan infeksi cacing gelang sampai sebagai obat malaria. Daun pare berkhasiat menyembuhkan diare pada bayi, membersihkan darah bagi wanita yang baru melahirkan, menurunkan panas, mengeluarkan cacing kremi, dan juga dapat menyembuhkan batuk dan radang tenggorokan.
Sebuah penelitian di laboratorium Saint Louis University, AS membuktikan, bahwa ekstrak sayuran pare membantu melindungi wanita dari kanker payudara. Dari percobaan itu dapat diketahui bahwa kandungan zat dalam pare, yakni lesichin dan zat lain yang berfungsi mengaktifkan kerja kekebalan, berfungsi melawan sel kanker.
Penelitian lain yang dilakukan di Jepang diketahui bahwa biji pare merupakan anti oksidan yang cukup kuat. Antioksidan bekerja memerangi radikal bebas di dalam tubuh penyebab luka pada sel, melawan pembentukan sel kanker, memperlambat proses penuaan, membuka penyumbatan arteri, stroke, penyakit jantung dan lain-lain.

Selain itu, zat protein yang terkandung di dalamnya berperan menurunkan kadar gula dalam darah. Zat-zat yang terkandung dalam daging dan biji pare mampu mempercepat pembongkaran glukosa dan mengubah glukosa yang berlebih menjadi energi.
Pare juga mengandung serat, vitamin C, karotin, dan kalium. Serat berperan mengatur kondisi di dalam usus dan berfungsi mengatasi sembelit; karotin menjaga kesehatan mata, meningkatkan aktivitas mata dan mengurangi keluhan rabun senja. Sedangkan kalium berfungsi untuk mengatasi kelebihan dalam mengkonsumsi natrium berlebih sehingga berkhasiat mengatasi hipertensi.
Vitamin C yang terkandung dalam 100 gr pare sekitar 120 ml. Vitamin C ini berfungsi menjaga kecantikan kulit, karena mencegah

Kalau Anda belum tertarik mengkonsumsi pare karena rasa pahitnya, ada tips sederhana yang dapat dilakukan. Caranya dengan merendam atau mencuci irisan buah pare pada air garam atau membuat pare menjadi teh.
Oleh: Ir. Ajat Jatnika, M.Sc.
(Widyaiswara BBPP Lembang)
Dari berbagai sumber).