Perbanyakan Benih Kentang G0 Sistem Aeroponik

Aeroponik adalah metode budidaya tanaman tanpa menggunakan media tanam tanah. Aeroponik berasal dari kata aero (udara) dan ponos (budidaya).  Sistem ini dilakukan dengan akar menggantung dan nutrisi yang diberikan disemprotkan (pengkabutan) melalui nozzle langsung menuju akar tanaman. Keunggulan sistem aeroponik menghasilkan bibit unggul berkualitas, produktivitas tinggi, efisiensi biaya dan lahan serta nutrisi yang dilakukan secara langsung melalui pengkabutan. Balai Besar Pelatihan Pertanian (BBPP) Lembang melalui Pusat Inkubator Agribisnis memperkenalkan sistem aeroponik sebagai inovasi dalam perbanyakan benih kentang G0 yang berkualitas.

Tahapan Budidaya Aeroponik Kentang G0

1. Persiapan Lahan/ Screen House


Screen house dapat dibuat menggunakan bahan kayu, bambu atau besi dengan beratapkan plastik UV dan berdindingkan kain kasa. Instalasi berupa bak yang terbuat dari fiber atau plastik dengan tutup berupa styrofoam yang dilubangi untuk jarak tanam sesuai kebutuhan seperti 16x20 cm. Saluran irigasi yang terdapat di dalam bak fiber yaitu selang PE 0,5 cm untuk mengalirkan nutrisi yang disemprotkan (pengkabutan) dengan tekanan tinggi melalui nozzle dengan jarak antar nozzle 50-75 cm. Instalasi kentang aeroponik terdiri atas beberapa komponen utama, yaitu styrofoam, pompa, nozzle, tandon larutan nutrisi, dan sistem pengatur waktu (timer). 

2. Persiapan Benih

Benih kentang yang digunakan dalam persiapan tanam yaitu hasil dari perbanyakan melalui kultur jaringan berbentuk planlet. Planlet diaklimatisasi menggunakan media arang sekam dan tray. Kemudian dilakukan stek sebanyak 3 kali dengan selisih umur 21 hari. Kemudian hasil stek dicelupkan larutan perangsang akar (root-up) lalu dipindahkan ke media arang sekam.

3. Penanaman

Penanaman dilakukan dengan memasukkan benih ke dalam lubang tanam dan dililit rockwoll yang sudah direndam air untuk menyangga batang tanaman agar tetap tegak.

4. Pemeliharaan 

Pemeliharaan tanaman kentang pada sistem aeroponik dilakukan sebagai berikut: 
Pemberian nutrisi dilakukan menggunakan larutan nutrisi A B mix untuk memenuhi unsur hara makro dan mikro yang diaplikasikan langsung ke akar melalui pengkabutan dengan konsentrasi sesuai pada fase pertumbuhan tanaman, yaitu pada fase vegetatif 500₋800 ppm dan fase generatif 800₋1.500 ppm. 
Penyulaman dilakukan untuk mengganti benih tanaman yang rusak/ mati dengan benih sehat yang memiliki umur sama. Penyulaman dilakukan setelah penanaman dengan jangka waktu satu minggu.
Pengecekan nozzle secara rutin agar larutan nutrisi yang disemprotkan berfungsi secara maksimal. 
Melakukan pewiwilan pada batang tanaman untuk menghilangkan tunas air yang tumbuh di ketiak daun. 
Penurunan batang tanaman dilakukan pada usia 14 HST dan 30 HST. 
Pemberian ajir dilakukan pada umur 30 HST dan diikat agar tanaman kentang tidak roboh. 
Mengecek suhu dan kelembapan dengan menggunakan thermohygrometer. 
Mengecek kepekatan larutan hara dengan menggunakan EC dan pH meter. 

5. Pengendalian Hama dan Penyakit 

Pengendalian hama dan penyakit seperti sanitasi lingkungan (mekanis) dan penyemprotan insektisida maupun fungisida (kimiawi) dilakukan apabila tanaman terindikasi oleh serangan hama dan penyakit dengan perlakuan sesuai kebutuhan tanaman. 

6. Panen 

Pemanenan dilakukan setelah tanaman kentang berumur 90 hari. Pada hari ke 90 instalasi air dimatikan selama ±14 hari untuk proses pengeringan. Proses ini dilakukan untuk mengurangi pembusukan buah sebelum pemanenan.

Inovasi aeroponik kentang yang diterapkan BBPP Lembang menunjukkan pentingnya adopsi teknologi salah satunya dalam mendukung pertanian berkelanjutan di Indonesia.

Sumber: https://bbpplembang.bppsdmp.pertanian.go.id/publikasi-detail/1158