Dukung Pertanian Ramah Lingkungan, Kementan Kenalkan Inovasi Bioherbisida Alelopati di Bertani on Cloud Volume 367
Melalui Balai Besar Pelatihan Pertanian (BBPP) Lembang Kementan menyelenggarakan Bertani on Cloud (BOC) Volume 367 yang mengangkat tema “Pemanfaatan Bioherbisida Alelopati mendukung PM-AAS: Bebas Gulma, Hemat Biaya, dan Hasil Maksimal dengan Bioherbisida”. Kamis (17/9/2026)
Menteri Pertanian RI, Andi Amran Sulaiman, menegaskan komitmen pemerintah dalam mendorong inovasi yang mendorong usaha tani agar lebih efisien. Dalam berbagai kesempatan, Mentan Amran mengatakan bahwa peningkatan produktivitas menjadi langkah penting setelah Indonesia berhasil mencapai swasembada beras. Menurutnya, teknologi harus diarahkan bukan hanya untuk meningkatkan produksi, tetapi juga memberikan dampak nyata terhadap pendapatan petani.
Senada dengan hal tersebut, Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pertanian (BPPSDMP), Idha Widhi Arsanti, mengapresiasi terobosan para penyuluh di lapangan. “Kami terus mendorong lahirnya inovasi lokal dari SDM pertanian unggul yang siap direplikasi secara nasional untuk memperkuat kemandirian pangan,” kata Idha.
BOC volume 367 dibuka oleh Kepala BBPP Lembang, Ahmad Dedy Syathori. Disampaikan Dedy, inovasi bioherbisida alelopati yang dikembangkan oleh Jaja Sukmana, selaku narasumber pada kegiatan ini, menjadi salah satu solusi atas permasalahan sebagian besar petani, terutama dalam mengatasi gulma. Terlebih dengan adanya metode PM-AAS yang merupakan hasil pengembangan dengan mengkombinasikan berbagai teknologi budidaya modern dan praktik pertanian yang telah berkembang di Indonesia. Salah satu fokusnya adalah meningkatkan populasi tanaman agar produktivitas dapat meningkat secara signifikan. “Setelah mengikuti BOC kali ini, diharapkan para peserta dapat mempelajari ilmu dari narasumber kita dan memberikan dampak positif untuk para petani”. Materi BOC volume 367 kemudian dikemas dalam tiga sesi, mulai dari pengenalan inovasi, praktik pembuatan bioherbisida alelopati, hingga diskusi bersama peserta.Jaja Sukmana, penyuluh pertanian Kabupaten Ciamis, Jawa Barat menjadi narasumber didampingi moderator Chesara Novatiano, Widyaiswara BBPP Lembang. Jaja mengawali sesi dengan berbagi cerita mengenai prosesnya dalam mengembangkan bioherbisida alelopati sebagai alternatif pengendalian gulma yang efisien dari sisi biaya. Jaja juga memperkenalkan MUHARAM (Mutiara Hitam Suburkan Alam), inovasi berbasis ekstraksi bahan organik seperti kompos dan pupuk kandang untuk menghasilkan zat humat yang dapat dimanfaatkan dalam mendukung kesuburan tanah sekaligus menekan biaya usaha tani.
Berbagai inovasi tersebut lahir dari pengalamannya menghadapi kondisi lahan yang tidak selalu ideal. Di Kabupaten Ciamis, Jaja mengembangkan pemanfaatan ekstrak organik dan zat humat MUHARAM yang kemudian dikombinasikan dengan metode PM-AAS Kementerian Pertanian sebagai salah satu upaya meningkatkan produktivitas lahan. Pengalaman tersebut menjadi bagian dari perjalanan inovasinya hingga berhasil meraih predikat Penyuluh Pertanian Teladan Tingkat Nasional Tahun 2024.
“Dari situ saya berpikir bagaimana menghadirkan solusi agar lahan dengan kondisi seperti ini tetap mampu menghasilkan. Kebetulan ada program PM-AAS dari Kementerian Pertanian yang menurut saya memiliki potensi besar untuk meningkatkan produksi,” jelas Jaja.
Selanjutnya, Jaja mempraktikkan langsung cara pembuatan bioherbisida alelopati dengan bahan-bahan yang mudah diperoleh seperti air kelapa tua, alelopati rimpang gulma alang-alang, biji/daun mahoni, garam krosok, dan detergen sebagai perekat. bahan -bahan tersebut difermentasikan dan diolah menjadi larutan bioherbisida yang penggunaannya disesuaikan dengan tahapan budidaya dan luasan lahan. Jaja juga memaparkan bahwa kombinasi antara bioherbisida alelopati dengan zat humat Muharram dan metode PM-AAS mampu mendongkrak panen padi varietas Cakrabuana mencapai 7,5 ton per hektar di Kecamatan Purwadadi, Kabupaten Ciamis pada Juli 2026. Hasil tersebut membuktikan efektivitas penggunaan material organik dalam menanggulangi gulma sekaligus mengoptimalkan efisiensi kegiatan pertanian.

Antusiasme peserta terlihat pada sesi ketiga yang diisi dengan diskusi. Sejumlah pertanyaan disampaikan secara langsung kepada Jaja, terutama mengenai proses pembuatan dan penyesuaian penggunaan di lokasi masing-masing peserta terutama yang berada di luar pulau Jawa. seperti yang disampaikan oleh Yanratno, peserta dari Barito Timur yang menyatakan ketertarikannya dengan bioherbisida alelopati. Ia juga mengapresiasi penjelasan yang diberikan narasumber.
Melalui Bertani On Cloud Volume 367, BBPP Lembang terus memperluas pembelajaran pertanian berbasis teknologi yang dapat diakses jarak jauh oleh seluruh petani, penyuluh, dan praktisi pertanian. Berbagai inovasi dari penyuluh dan pelaku pertanian diharapkan dapat memperkaya pengetahuan SDM pertanian serta mendorong penerapan usaha tani yang lebih efisien dan ramah lingkungan.