Bawang Merah Menjelang Panen, Kok Tumbuh Daun Baru?
Pernahkah anda terkejut melihat tanamanbawang merah atau bawang putih yang harusnya sebentar lagi panen tapi tiba-tiba muncul daun baru lagi?. Fenomenaini kadang membuat bingung para petani, apakah bawang ini akan bertambah anakan sehingga hasilnyamenjadi lebih tinggi,atau justru merupakan hal yang akan merugikan?
Banyak petani bawang merah maupunbawang putih pernah mengalami kondisi yang membingungkan menjelang panen. Ketika umbi tampaksudah terbentuk dan tanamanseharusnya memasuki fase pematangan, justrumuncul daun-daun baru yang berwarna hijau segar. Sekilaskondisi ini terlihat menguntungkan karena tanaman tampak sehat dan kembali aktiftumbuh. Namun, dari sudut pandangfisiologi tanaman, fenomena tersebut justru dapat menjadi tanda bahwaproses pematangan umbi sedang terganggu.
Pada tanaman bawang (genus Allium),pertumbuhan normal terdiri atas fase vegetatif, pembentukan umbi, pembesaranumbi, pematangan umbi, dan panen. Ketika memasuki fase pematangan, sebagianbesar hasil fotosintesis seharusnya dialihkanke umbi sehingga daun mulai menua secaraalami, leher umbi mengecil, dan jaringan umbi menjadi lebih padat. Apabilatanaman kembali menghasilkan daun baru pada faseini, berarti sebagian energi tanaman dialihkan kembali ke pertumbuhan vegetatif.
Fenomena munculnya daun baru menjelangpanen sering disebut sebagai regrowthatau pertumbuhan ulang vegetatif. Regrowth terjadiketika tanaman menerima sinyal lingkungan yang membuatnya “mengira” bahwakondisi pertumbuhan masih sangatmendukung sehingga prosesreproduktif dan pematangan umbi ditunda. Akibatnya, tanamankembali memproduksi daun, akar, atau tunas baru meskipun umur tanaman sudahmendekati masa panen.
Salahsatu penyebab utama regrowth adalah ketersediaan air yang berlebihan menjelang panen. Pada faseakhir pertumbuhan, tanaman bawang umumnya memerlukan pengurangan pasokan airsecara bertahap untuk mendorong pematangan umbi. Curah hujan yang tinggi ataupenyiraman yang terus dilakukan dapat mempertahankan kondisi tanah tetap basahsehingga tanaman tetap aktif melakukan pertumbuhan vegetatif. Berbagaipenelitian menunjukkan bahwa pengelolaan irigasi sangat berpengaruh terhadappertumbuhan, perkembangan, dan kematangan umbi bawang.
Selain air, faktor nutrisi terutamanitrogen memiliki peran yang sangat besar. Nitrogen merupakan unsur utamapembentuk klorofil dan jaringan daun. Ketika nitrogen tersedia dalam jumlahberlebihan menjelang panen,tanaman akan terdorong untuk terus menghasilkan daunbaru. Penelitian terbaru menunjukkan bahwa peningkatan dosis nitrogen mampumeningkatkan bobot segar daun dan memperpanjang aktivitas pertumbuhan vegetatiftanaman bawang.
Pemberian pupuk nitrogen yang terlambatsering menjadi penyebab regrowth di lapangan.Petani terkadang masih memberikan pupuk urea atau pupuk NPK dengan kandungannitrogen tinggi ketika umbi sebenarnya sudah mulai terbentuk. Akibatnya, energihasil fotosintesis yang seharusnya digunakan untuk memperbesar dan mematangkan umbi kembali digunakanuntuk membentuk jaringanvegetatif baru. Kondisi inimenyebabkan umur panen menjadi lebih panjang dan kualitas umbi menurun.
Kelembapan udara yang tinggi juga dapatmemicu terjadinya regrowth. Lingkunganyang lembap memperlambat proses penuaan daun sehingga tanaman mempertahankan aktivitas fisiologisnya lebih lama.Penelitian mengenai pertumbuhan bawang menunjukkan bahwa kondisidengan kelembapan tinggidan curah hujan yanglebih besar cenderung memperpanjang periode pertumbuhan dan memperlambatkematangan umbi dibandingkan kondisi yang lebih kering.
Petani dapat mengenali gejala awal regrowth melalui beberapa tanda yang khas. Daun muda mulai muncul dari bagiantengah rumpun, warna tanaman kembali hijau segar, leher umbi tetap tebal, dandaun tidak menunjukkan gejala rebah alami yang biasanya muncul menjelang panen.Pada kondisi normal, tanaman yang mendekati panen akan menunjukkan penurunanaktivitas pertumbuhan daun dan peningkatan pemasakan umbi. Oleh karena itu,kemunculan daun baru pada fase ini perlu diwaspadai.
Dampak regrowth tidak hanya terlihat pada pertumbuhan tanaman, tetapijuga pada kualitas hasil panen. Umbi yang mengalami keterlambatan pematanganumumnya memiliki kadar air lebih tinggi, lapisan kulit yang kurang sempurna,serta tekstur yang kurang padat. Kondisi tersebut dapat menurunkan mutu panendan mengurangi nilai jual produk di pasaran. Selain itu, panen sering kaliharus ditunda karena umbi belum mencapai tingkat kematangan yangoptimal. Masalah lain yang sering muncul akibat regrowth adalah menurunnya daya simpan umbi. Umbiyang belum matang sempurna lebih rentan mengalami pembusukan, serangan patogen pascapanen, dan pertunasan dini selama penyimpanan. Beberapapanduan produksi bawang menunjukkan bahwa kelebihan nitrogen danketerlambatan pematangan dapat memperpendek masa simpan hasil panen. Oleh sebabitu, regrowth bukan hanya masalah di lahan, tetapi juga dapat menimbulkankerugian selama penyimpanan dan pemasaran.
Untuk mencegah terjadinya regrowth, petani perlu mengatur manajemen budidaya secara tepat. Penyiramansebaiknya mulai dikurangi menjelang panen, terutama setelah umbi mencapaiukuran maksimum. Pemupukannitrogen juga harus dihentikan pada fase akhir pertumbuhan,sementara unsur kalium perlu diperhatikan karena berperan dalam pengisian danpematangan umbi. Selain itu, drainase lahan harus dijaga agar tidak terjadigenangan yang mempertahankan kondisitanah terlalu basah.
Apabila regrowth sudahmulai terjadi, langkah yang dapat dilakukan adalah menghentikan pemberian pupuknitrogen, mengurangi frekuensi penyiraman, memperbaiki drainase, dan melakukanpemantauan perkembangan tanaman secara intensif. Dengan pengelolaan yang tepat,tanaman masih dapat diarahkan kembali menuju fase pematangan umbi. Padaakhirnya, memahami penyebab munculnya daun baru menjelang panen sangat pentingkarena kondisi ini bukan tanda peningkatan hasil, melainkansinyal bahwa keseimbangan antara pertumbuhan vegetatif dan pembentukan umbi sedang terganggu.Pengetahuan tersebut dapat membantu petani menghasilkan bawang merah dan bawangputih dengan kualitas yang lebih baik, umur simpan lebih panjang, dan nilaiekonomi yang lebih tinggi.
Referensi
Aku, R.G, etal. (2023). Water management and irrigation for bulb onion (Allium cepa L.) growth and development in the PapuaNew Guinea Highlands. Asia Pacific Journal of Sustainable Agriculture Food and Energy (APJSAFE). 11 (2) 47- 58
Alkhateeb, O.A. et al. (2024). Response ofOnion Fresh Weight, Nutrients Uptake, Nitrogen Use Efficiency, Yield, and Bulb Qualityto Different Nitrogen Fertilization Levels and Plant Density. Pol. J.Environ. Stud.33(3):3045-3054
Ikeda H, et al. (2020). A Comparative Study on the Growth and BulbDevelopment of Several Onion (Allium cepa L.) Cultivars Sown in Spring in theNortheast Region of Japan. Hort. J. Preview. doi: 10.2503/hortj.UTD-200
Imran, M. et al. (2025). Current Trends and Future Prospects in OnionProduction, Supply, and Demandin South Korea:A Comprehensive Review. Sustainability (MDPI). 17 (3) :1 - 19
Salari, H. et al.(2023). Optimizing the Planting Date for OnionProduction. Journal of Natural Science Review. 1(1):1-15