Belajar Kultur Jaringan di UPT Pelatihan Kementan, Pelaku Usaha Siapkan Perbanyakan Benih Kentang Bermutu
Lembang — Teknologi kultur jaringan menjadi salah satu pendekatan penting dalam mendukung penyediaan benih kentang bermutu. Untuk memperluas penerapan teknologi tersebut di kalangan pelaku usaha, Balai Besar Pelatihan Pertanian (BBPP) Lembang memberikan pembelajaran praktik melalui kegiatan Magang Kultur Jaringan komoditas kentang pada 14–16 September 2026.
Kegiatan yang berlangsung di Laboratorium Kultur Jaringan BBPP Lembang tersebut diikuti dua peserta dari Amanah Farm, Pangalengan, Kabupaten Bandung. Selama tiga hari, peserta tidak hanya mempelajari dasar-dasar kultur jaringan, tetapi juga mendapatkan pengalaman praktik mulai dari pembuatan media hingga aklimatisasi planlet serta melihat penerapan teknologi screen aeroponik untuk perbanyakan benih kentang G0.
Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya BBPP Lembang dalam memperkuat kompetensi pelaku usaha pertanian agar mampu mengadopsi teknologi dan inovasi sesuai kebutuhan pengembangan usaha.
Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menegaskan bahwa pemanfaatan teknologi menjadi salah satu faktor penting dalam membangun pertanian yang tangguh dan berdaya saing.
“Teknologi pertanian mampu menjadikan pertanian Indonesia jauh lebih kuat dan tahan terhadap berbagai ancaman,” ujar Mentan Amran.
Sejalan dengan hal tersebut, Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pertanian (BPPSDMP), Idha Widi Arshanti, menekankan pentingnya peningkatan kapasitas SDM pertanian melalui pendidikan dan pelatihan yang relevan dengan perkembangan teknologi.
“Kami terus mendorong UPT pelatihan di bawah BPPSDMP untuk menyelenggarakan pelatihan berbasis teknologi dan kebutuhan masa depan,” katanya.
Menurutnya, pengembangan teknologi budidaya dan perbenihan kentang juga penting untuk mendukung pemenuhan kebutuhan komoditas tersebut di dalam negeri.
Di BBPP Lembang, peserta magang terlebih dahulu mendapatkan materi mengenai dasar-dasar kultur jaringan serta Standard Operating Procedure (SOP) laboratorium. Pembelajaran kemudian dilanjutkan dengan praktik sejumlah tahapan perbanyakan tanaman secara kultur jaringan.

Praktik diawali dengan pembuatan media stok dan subkultur, kemudian dilanjutkan dengan proses inisiasi dan sterilisasi. Pada tahap tersebut, tunas atau jaringan tanaman yang telah disterilkan ditanam pada media yang telah disiapkan untuk selanjutnya berkembang menjadi planlet.
Setelah itu, peserta mempelajari proses aklimatisasi, yaitu tahapan penyesuaian planlet dari kondisi steril di dalam botol menuju lingkungan luar. Tahapan ini menjadi bagian penting sebelum tanaman melanjutkan pertumbuhan pada lingkungan budidaya berikutnya.
Tidak berhenti di laboratorium, peserta juga diajak melihat tahapan lanjutan perbanyakan benih kentang melalui teknologi screen aeroponik. Didampingi Widyaiswara BBPP Lembang, Abd Rohim, peserta mengamati secara langsung penanaman kentang G0 menggunakan sistem aeroponik yang dikembangkan BBPP Lembang.
Teknologi tersebut menjadi bagian dari rangkaian pembelajaran perbanyakan benih kentang setelah tanaman melalui proses aklimatisasi. Sebelum ditanam pada bak aeroponik yang dapat menggunakan bahan fiber maupun terpal, dilakukan penyetekan sebanyak tiga kali. Selanjutnya, tanaman dibudidayakan dalam lingkungan screen house untuk mendukung produksi benih kentang bermutu.
Bagi peserta, pengalaman tersebut memberikan gambaran yang lebih utuh mengenai keterkaitan antara kultur jaringan dan tahapan perbanyakan benih kentang di lapangan.
Ujang Rahmat, salah satu peserta magang dari Amanah Farm, mengatakan dirinya sebelumnya telah mempelajari kultur jaringan di institusi lain yang memiliki fasilitas laboratorium dan sarana perbanyakan kultur jaringan. Namun, pembelajaran di BBPP Lembang memberikan tambahan pengetahuan sekaligus referensi dalam mengembangkan laboratorium yang tengah dibangunnya.
“Praktiknya mudah dipahami dan memberikan gambaran bagaimana menyusun serta mengembangkan laboratorium kultur jaringan,” ujarnya.
Pengalaman tersebut menjadi bekal bagi peserta untuk mengembangkan fasilitas kultur jaringan secara mandiri sekaligus mendukung pengembangan usaha perbenihan kentang.

Melalui kegiatan magang, BBPP Lembang tidak hanya berperan sebagai tempat pembelajaran, tetapi juga membuka akses bagi pelaku usaha terhadap teknologi pertanian yang dapat diterapkan sesuai kebutuhan. Pengalaman praktik dari laboratorium kultur jaringan hingga screen aeroponik diharapkan dapat diadopsi oleh peserta untuk menghasilkan benih kentang bermutu dan mendukung peningkatan produktivitas serta daya saing usaha pertanian.