Lain Dulu Lain Sekarang
Lain Dulu Lain Sekarang

Teringat akan sebuah lagu persembahan “Koes Plus Bersaudara” pada Tahun 70-an dengan judul KOLAM SUSU, berikut kutipan lagunya:
Bukan Lautan hanya kolam susu
Kail dan jala cukup menghidupimu
Tiada badai tiada topan kutemui
Ikan dan udang menghampiri dirimu,
Orang bilang tanah kita tanah surga
Tongkat kayu dan bambu jadi tanaman
Jika disimak dari syair lagunya, menggambarkan bahwa negeri kita ini subur, indah dan nyaman seperti di alam surga, sehingga siapa pun ingin singgah di negeri tercinta ini. Keanekaragaman negeri disatukan oleh semboyan “Bhineka Tunggal Ika” yang berarti, meskipun beranekaragam budaya, bahasa dan agama tetapi tetap satu tujuan.
Filosofi tersebut jangan sampai terlupakan, perlu dilestarikan dan dipertahankan serta diterapkan dalam kehidupan membangun negeri ini dengan harapan, Negara Kesatuan Republik Indonesia dapat terwujud dengan aman, tentram dan sejahtera sesuai amanat Pancasila dan UUD 1945.
Melihat fenomena yang terjadi belakangan ini, ada banyak kekhawatiran yang dirasakan terutama terjadinya perpecahan diantara kita, baik dikalangan Penyelenggara Negara maupun dikalangan masyarakat sendiri karena “Bhineka Tunggal Ika” sudah tidak terwujud lagi…Naudzubilahimindzalik….
Untuk mengatasi hal tersebut, diperlukan intelegensi yang tinggi dari seluruh komponen bangsa terhadap “Ancaman, Tantangan, Gangguan, dan Hambatan” di bidang intelektual politik, ekonomi, sosial, budaya, agama dan pertahanan keamanan dengan mempertajam wawasan nusantara sehingga “Ancaman, Tantangan, Gangguan, dan Hambatan” tersebut yang datang dari dalam ataupun luar dapat terdeteksi sejak awal.
Seandainya hal tersebut bisa terwujud, kita semua mau dan mampu melaksanakannya…saya yakin, pembangunan negeri ini akan kembali terwujud secara menyeluruh. Negeri kita akan kembali aman, tentram, sentosa dan sejahtera. Dengan semboyan Bhineka Tunggal Ika…harapan Surga Zamrud Khatulistiwa di negeri ini hidup kembali…!!!! Amiiin
Kail dan jala cukup menghidupimu
Tiada badai tiada topan kutemui
Ikan dan udang menghampiri dirimu,
Orang bilang tanah kita tanah surga
Tongkat kayu dan bambu jadi tanaman
Jika disimak dari syair lagunya, menggambarkan bahwa negeri kita ini subur, indah dan nyaman seperti di alam surga, sehingga siapa pun ingin singgah di negeri tercinta ini. Keanekaragaman negeri disatukan oleh semboyan “Bhineka Tunggal Ika” yang berarti, meskipun beranekaragam budaya, bahasa dan agama tetapi tetap satu tujuan.
Filosofi tersebut jangan sampai terlupakan, perlu dilestarikan dan dipertahankan serta diterapkan dalam kehidupan membangun negeri ini dengan harapan, Negara Kesatuan Republik Indonesia dapat terwujud dengan aman, tentram dan sejahtera sesuai amanat Pancasila dan UUD 1945.
Melihat fenomena yang terjadi belakangan ini, ada banyak kekhawatiran yang dirasakan terutama terjadinya perpecahan diantara kita, baik dikalangan Penyelenggara Negara maupun dikalangan masyarakat sendiri karena “Bhineka Tunggal Ika” sudah tidak terwujud lagi…Naudzubilahimindzalik….
Untuk mengatasi hal tersebut, diperlukan intelegensi yang tinggi dari seluruh komponen bangsa terhadap “Ancaman, Tantangan, Gangguan, dan Hambatan” di bidang intelektual politik, ekonomi, sosial, budaya, agama dan pertahanan keamanan dengan mempertajam wawasan nusantara sehingga “Ancaman, Tantangan, Gangguan, dan Hambatan” tersebut yang datang dari dalam ataupun luar dapat terdeteksi sejak awal.
Seandainya hal tersebut bisa terwujud, kita semua mau dan mampu melaksanakannya…saya yakin, pembangunan negeri ini akan kembali terwujud secara menyeluruh. Negeri kita akan kembali aman, tentram, sentosa dan sejahtera. Dengan semboyan Bhineka Tunggal Ika…harapan Surga Zamrud Khatulistiwa di negeri ini hidup kembali…!!!! Amiiin