Tanam Bawang Merah Asal Biji (Tss) Menggunakan Persemaian Yang Aman Atau Tabela Yang Hemat, Mana Yang Lebih Untung?

Budidaya bawang merah (Allium cepa L. Aggregatum group) di Indonesia saat ini tengah memasuki babak baru melalui modernisasi teknik penanaman. Sebagai salah satu komoditas hortikultura strategis yang memiliki pengaruh besar terhadap inflasi nasional, ketergantungan pada bibit berupa umbi sering kali menjadi kendala utama bagi petani karena harganya yang fluktuatif dan risiko membawa penyakit tular bibit yang tinggi. 

Selama ini petani lebih umum menggunakan bibit yang berasal dari umbi. Metode ini sebenarnya menyimpan sejumlah kerugian signifikan yang sering kali membatasi keuntungan petani. Salah satu kelemahan utamanya adalah tingginya risiko akumulasi patogen, terutama virus dan jamur tular bibit (seed-borne diseases) seperti Fusarium dan Alternaria, yang terbawa dari generasi ke generasi sehingga menurunkan kualitas hasil panen secara bertahap.

Selain itu, penggunaan umbi menuntut biaya investasi yang sangat besar; hampir 40% hingga 50% dari total biaya produksi habis hanya untuk pengadaan bibit karena volume yang dibutuhkan mencapai 1,2 hingga 1,5 ton per hektar. Masalah ini diperparah dengan masa simpan umbi bibit yang sangat pendek, yakni hanya berkisar 3–4 bulan, sehingga petani sering kali terjebak dalam kelangkaan bibit berkualitas saat memasuki musim tanam.

Oleh karena itu, peralihan ke benih asal biji (TSS) menjadi alternatif yang sangat strategis karena mampu memutus rantai penularan penyakit dan menekan biaya logistik secara drastis melalui kemasan yang jauh lebih ringkas dan daya simpan yang mencapai dua tahun.

Penggunaan TSS menawarkan keunggulan berupa efisiensi yang lebih tinggi karena hanya membutuhkan sekitar 3–7,5 kg benih per hektar dibandingkan dengan bibit umbi yang memerlukan 1–1,5 ton per hektar, sehingga mampu memangkas biaya bibit hingga 25–30%. Selain itu, TSS menghasilkan tanaman yang lebih sehat karena bebas dari patogen tular umbi (seperti virus dan jamur Fusarium) serta memiliki daya simpan yang jauh lebih lama, yakni hingga 1–2 tahun dibandingkan umbi yang hanya bertahan 3–4 bulan.

Meskipun metode tanam langsung dari biji membutuhkan manajemen pemeliharaan yang lebih intensif pada fase awal, teknologi ini mampu meningkatkan hasil panen hingga dua kali lipat dibandingkan metode tradisional, dan dipercaya menjadi solusi strategis untuk mengatasi kelangkaan bibit berkualitas di tingkat petani.

Secara umum proses penanaman bawang merah asal biji (TSS) dimulai dengan penyemaian biji di media semai yang gembur (campuran tanah, arang sekam dan pupuk organik) selama kurang lebih 40 hingga 45 hari. Selama masa pembibitan ini, perlu dipastikan agar kelembapannya terjaga dengan penyiraman rutin hingga bibit memiliki 3-4 helai daun dan batang yang cukup kuat untuk dipindahkan.

Persemaian pada penanaman bawang merah asal biji didasari atas beberapa pertimbangan antara lain:
a. Di dalam persemaian, lingkungan (suhu, kelembapan, dan media tanam) dapat dikontrol dengan lebih ketat. Hal ini memastikan biji bawang merah yang ukurannya sangat kecil dapat berkecambah dengan maksimal tanpa gangguan cuaca ekstrem.
b. Efisiensi Penggunaan Benih: Karena setiap biji sangat berharga, penyemaian mencegah kehilangan benih akibat hanyut terbawa air hujan atau dimakan hama (seperti semut dan burung) jika langsung ditebar di lahan luas.
c. Seleksi Bibit yang Sehat: Melalui persemaian, Anda hanya memilih bibit dipilih yang pertumbuhannya paling seragam, kuat, dan sehat untuk dipindahkan ke lahan. Bibit Benih yang kerdil atau cacat bisa langsung disingkirkan, sehingga populasi tanaman di lahan nantinya menjadi lebih produktif.
d. Memudahkan Pemeliharaan Awal: Tanaman muda bawang merah sangat rentan terhadap gulma. Dengan persemaian, Anda lebih mudah membersihkan rumput liar dan melakukan penyiraman di area yang terbatas dibandingkan harus mengurus lahan yang luas sejak hari pertama.
e. Struktur Akar Lebih Kuat: Proses pemindahan tanam (transplanting) pada umur 40-45 hari merangsang pertumbuhan akar baru yang lebih banyak dan kuat saat tanaman beradaptasi di lahan permanen.
Namun sistem persemaian juga memiliki kelemahan yang patut dipertimbangkan, antara lain tingginya risiko stres pindah tanam (transplant shock) yang dapat menghambat pertumbuhan awal, serta pembengkakan biaya produksi akibat kebutuhan tenaga kerja intensif dan sarana pembibitan tambahan. Selain itu, masa tunggu yang mencapai 45 hari di persemaian membuat siklus budidaya menjadi lebih panjang dan rentan terhadap penularan penyakit tular-bibit jika sanitasi media semai tidak terjaga dengan ketat.

Setelah masa pembibitan selesai, bibit siap dipindahkan ke lahan permanen atau bedengan dengan jarak tanam ideal sekitar 10x10 cm atau 15x10 cm. Proses pindah tanam sebaiknya dilakukan pada sore hari untuk mengurangi stres pada tanaman, dengan cara mencabut bibit secara hati-hati agar akarnya tidak rusak. Tanaman bawang merah asal biji umumnya memiliki umur panen sedikit lebih lama dibanding asal umbi, yakni sekitar 65 hingga 80 hari setelah tanam (HST), tergantung pada varietas dan kondisi lingkungan. Tanda bawang merah siap panen adalah ketika 70-80% daunnya sudah mulai merebah dan pangkal daun melunak.

Selain penanaman melalui persemaian, menanam biji bawang merah dapat juga dilakukan dengan sistem tanam benih langsung (tabela). Beberapa orang memiliki pertimbangan tersendiri ketika melakukan metode ini antara lain:
a. Efisiensi Biaya Tenaga Kerja: Menghilangkan biaya untuk pembuatan bedengan semai, pemeliharaan pembibitan selama 45 hari, serta upah tenaga kerja untuk proses cabut-pindah tanam yang biasanya memakan waktu dan biaya besar.
b. Masa Pertumbuhan Lebih Singkat di Lahan: Karena tanaman tidak mengalami "stres pindah tanam" (transplant shock), akar dapat langsung berkembang di tempat permanennya. Hal ini terkadang membuat fase awal pertumbuhan lebih stabil jika kebutuhan air tercukupi.
c. Akar Tunggang Lebih Kokoh: Tanaman yang tumbuh langsung dari biji di tempatnya cenderung memiliki sistem perakaran yang lebih dalam dan tidak terganggu, sehingga lebih tahan terhadap kekeringan dibandingkan bibit hasil cabutan.
d. Mengurangi Risiko Kerusakan Mekanis: Proses pemindahan bibit berisiko merusak akar atau batang muda. Dengan Tabela, risiko kerusakan fisik pada fase kritis pertumbuhan dapat dihindari.
Penting untuk diingat bahwa Tabela membutuhkan persiapan lahan yang sangat halus (remah) dan pengendalian gulma yang ekstra ketat, karena biji bawang merah yang sangat kecil mudah kalah bersaing dengan rumput liar pada minggu-minggu awal. Selain itu, penggunaan benih pada sistem Tabela biasanya lebih banyak (boros) untuk mengantisipasi daya berkecambah yang tidak seragam di lapangan terbuka.

Pemilihan antara sistem tanam benih langsung (Tabela) dan sistem pindah tanam (transplanting) sangat bergantung pada skala usaha dan ketersediaan sumber daya petani. Sistem pindah tanam menawarkan kepastian tumbuh dan keseragaman hasil yang lebih tinggi karena perlindungan ekstra di fase pembibitan, sehingga sangat cocok bagi pemula atau lahan yang memiliki masalah gulma yang tinggi. Di sisi lain, sistem Tabela menjadi solusi cerdas bagi petani yang ingin menekan biaya operasional secara signifikan dan mempercepat proses produksi dengan memangkas fase pindah tanam yang melelahkan.

Pada akhirnya, kesuksesan budidaya bawang merah asal biji (TSS) terletak pada manajemen lahan dan pengairan yang disiplin. Jika Anda mengutamakan efisiensi biaya dan memiliki lahan dengan drainase serta kebersihan gulma yang baik, Tabela dapat menjadi pilihan yang menguntungkan. Namun, jika kualitas umbi yang seragam dan risiko kegagalan yang minim menjadi prioritas, maka sistem persemaian tetap menjadi metode yang paling direkomendasikan. Kedua teknik ini merupakan bukti bahwa inovasi TSS mampu memberikan fleksibilitas bagi petani dalam meningkatkan produktivitas bawang merah di Indonesia.

Daftar Referensi
Lestari, EB., & Shoidah, F (2020). Teknik persemaian bawang merah asal biji (TSS) dan implikasinya terhadap pertumbuhan dan produksi hasil. Buletin Inovasi Teknologi Pertanian Spesifik Lokasi. 2(1):   45-49
Mahfudz., Maemunah., & Riska Rahmawati (2022). Pertumbuhan dan hasil bawang merah asal biji true shallot seed (TSS) pada berbagai dosis NPK. Agroland: Jurnal Ilmu-Ilmu Pertanian. 29(3) : 241 – 250
Nursalma, L., Maharijaya, A., & Sobir (2024). Bulb selection of shallot local varieties from true shallot seeds (TSS) for bulb split components. Jurnal Agronomi Indonesia (Indonesian Journal of Agronomy), 52(3), 379-388
Prakoso, T ., & Alpandari, (2021). Potensi penggunaan bahan tanam bawang merah (Allium ascalonicum L.) melalui teknik penanaman TSS (True Shallot Seed). AGRISINTECH Journal of Agribusiness and Agrotechnology. 2(2) : 59-66