Kementan Regenerasi Petani dengan Kenalkan Modernisasi Pertanian

LEMBANG – Balai Besar Pelatihan Pertanian (BBPP) Lembang, Kementerian Pertanian (Kementan) memperkenalkan teknologi pertanian kepada 284 siswa didampingi guru SMA Suluh Jakarta, Kamis (22/01/2026).



Pada berbagai kesempatan, Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman, menyebut regenerasi petani merupakan sebuah keharusan. Karena itu, Kementerian Pertanian terus melakukan pembinaan, memfasilitasi, sekaligus membuka ruang inovasi bagi petani muda.

"Anak muda kini bukan lagi sekadar penonton dalam pembangunan pertanian nasional. Di tangan generasi muda, pertanian diyakini bisa bertransformasi menjadi sektor yang lebih modern, produktif, dan berdaya saing," tuturnya.
Mentan Amran menambahkan, bonus demografi yang dimiliki Indonesia adalah peluang emas untuk mempercepat transformasi pertanian. 

Menurutnya, inovasi dan digitalisasi, generasi muda dapat menjadi motor penggerak lahirnya pertanian maju, berkelanjutan, sekaligus bernilai ekonomi tinggi.

Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian (BPPSDMP), Idha Widi Arsanti, mengatakan regenerasi petani sangat dibutuhkan. Karena, petani-petani yang ada saat ini sudah semakin tua, sedangkan kebutuhan pangan tidak semakin sedikit.

"Itulah pentingnya mendorong regenerasi petani, yang tentunya akan menyokong ketahanan pangan," kata Santi.
Rombongan kunjungan diterima secara resmi oleh Kepala Balai, Ajat Jatnika yang didampingi tim manajemen. Dalam kunjungannya, para siswa diajak menuju 3 lokasi di lahan praktik Inkubator Agribisnis, yaitu screen house tanaman hias, zona hidroponik sistem deep flow technique, dan laboratorium pengolahan hasil pertanian. 

Di zona screen house tanaman hias, widyaswara spesialisasi budidaya didampingi petugas menjelaskan perbanyakan kaktus dengan teknik grafting dan sukulen dengan stek daun yang cukup mudah karena bisa dipraktikkan generasi muda dan menjadi peluang bisnis yang menguntungkan di masa depan.

Kelompok lainnya mendatangi zona hidroponik sistem DFT (Deep Flow Technique). Petugas mendemonstrasikan pembuatan instalasi DFT dan mengajak sebagai murid untuk mempraktikkan pembuatan instalasi dan melakukan penanaman benih sayuran daun yang sudah disiapkan. 

Beranjak ke lokasi berikutnya adalah laboratorium pengolahan hasil pertanian. Widyaiswara spesialisasi pengolahan hasil pertanian lalu memberikan penjelasan tentang sub sistem dalam agribisnis, yaitu sub sistem hulu untuk penyediaan sarana produksi, usaha tani yaitu budidaya, hilir yaitu kegiatan pengolahan hasil pertanian, dan jasa penunjang yaitu kegiatan pemasaran, keuangan, dan pendidikan. 

Sub sistem ini saling terintegrasi, mulai dari penyediaan input, proses produksi, pengolahan lebih lanjut, hingga distribusi dan pemasaran produk akhir. 

Peserta diberikan penjelasan tentang sub sistem hilirisasi komoditas sayuran yang bertujuan meningkatkan nilai tambah komoditas pertanian. 

Mereka mempraktikkan olahan jagung menjadi es krim. Selanjutnya pengenalan alat dan bahan pembuatan olahan es krim jagung.

Secara bergantian, siswa-siswi mempraktikkan pembuatan cemilan sehat yang sangat digemari yaitu es krim jagung, mulai dari pencampuran bahan yaitu jagung manis pipil, telur, susu kental manis, susu murni, dan bahan pengembang makanan.

Selanjutnya pemasakan bahan di atas kompor, pembekuan hingga adonan es krim dimixer sebelum dibekukan kembali dan siap konsumsi. Terakhir, dilakukan pengemasan es krim ke dalam kemasan yang menarik.

Terakhir, peserta diajak mengenal pascapanen kopi, mulai dari panen kopi, pencucian, pengelupasan kulit biji kopi, pengeringan, grading, hingga menikmati segelas kopi varietas arabica. (yoko/chetty)