Mengenal Budidaya Hidroponik DFT Selada Siomak di BBPP Lembang
Lembang – Balai Besar Pelatihan Pertanian (BBPP) Lembang berperan sebagai pusat pengembangan sumber daya manusia (SDM) pertanian melalui pemanfaatan teknologi pertanian terkini. Berbagai fasilitas berbasis teknologi digunakan untuk mendukung proses transfer informasi serta penerapan inovasi pertanian bagi peserta pelatihan. Salah satu teknologi pertanian yang dikembangkan dan diterapkan di BBPP Lembang adalah budidaya metode hidroponik.
Hidroponik merupakan metode budidaya tanaman tanpa menggunakan media tanah, dengan memanfaatkan larutan nutrisi sebagai sumber utama unsur hara. Sistem ini memiliki sejumlah keunggulan, antara lain tanaman lebih higienis, pertumbuhan lebih seragam, serta dapat dibudidayakan sepanjang tahun. Berbagai jenis sistem hidroponik telah dikembangkan, seperti aeroponik, irigasi tetes, water culture, ebb and flow, wick system, Nutrient Film Technique (NFT), dan Deep Flow Technique (DFT).
Di Indonesia, hidroponik DFT menjadi salah satu sistem yang umum diterapkan karena relatif mudah dikelola dan tanaman masih dapat bertahan selama beberapa hari meskipun aliran air terhenti.
Komoditas yang dibudidayakan dengan sistem hidroponik DFT di BBPP Lembang adalah selada siomak. Tanaman ini dipilih karena relatif mudah dibudidayakan, umur panen yang singkat, serta respon yang baik pada sistem DFT. Secara umum, tahapan budidaya selada siomak sistem DFT adalah sebagi berikut:

1. Sterilisasi dan Sanitasi Instalasi
Tahap awal budidaya selada siomak sistem hidroponik DFT diawali dengan sterilisasi dan sanitasi instalasi. Kegiatan ini dilakukan dengan membersihkan pipa dan netpot dari lumut serta kotoran yang menempel untuk mencegah perkembangan bakteri dan jamur. Sanitasi juga mencakup pembersihan gulma di sekitar instalasi agar lingkungan budidaya tetap higienis dan mendukung pertumbuhan tanaman secara optimal.
2. Persiapan Instalasi Sistem Hidroponik DFT
Instalasi hidroponik DFT yang digunakan di BBPP Lembang terdiri atas instalasi horizontal sebagai media pertumbuhan awal dan instalasi vertikal sebagai instalasi utama. Pipa paralon disusun dengan jarak antar lubang tanam sekitar 10–15 cm sesuai kebutuhan tanaman. Sistem ini memungkinkan larutan nutrisi menggenang pada ketinggian tertentu dan disirkulasikan secara terus-menerus, sehingga tanaman memperoleh nutrisi dan oksigen secara stabil.
3. Persemaian Benih
Persemaian benih selada siomak dilakukan menggunakan media rockwool yang telah dibasahi. Benih disemai satu per satu pada setiap potongan rockwool, kemudian disimpan di tempat tertutup tanpa cahaya matahari selama dua hari hingga berkecambah. Setelah itu, bibit dipindahkan ke ruang semai dan dipelihara hingga berumur sekitar 14 hari setelah semai sebelum siap ditanam pada instalasi hidroponik.
4. Penanaman Benih
Penanaman dilakukan ketika benih telah memiliki 3–4 helai daun sejati atau berumur sekitar 14 hari setelah semai. Benih dimasukkan ke dalam netpot dan ditempatkan pada lubang instalasi DFT horizontal untuk proses adaptasi awal. Setelah tanaman tumbuh lebih kuat, benih dipindahkan ke instalasi DFT vertikal sebagai media utama hingga panen.
5. Pemeliharaan Tanaman
Pemeliharaan tanaman selada siomak sistem DFT bertujuan untuk menjaga pertumbuhan tanaman agar berlangsung optimal hingga masa panen.
- Pengelolaan nutrisi dilakukan menggunakan larutan nutrisi AB Mix yang mengandung unsur hara makro dan mikro. Larutan nutrisi diberikan dengan konsentrasi yang disesuaikan dengan fase pertumbuhan tanaman, yaitu sekitar 800–1.100 ppm pada umur 14–21 hari setelah tanam (HST), kemudian ditingkatkan menjadi 1.100–1.400 ppm pada umur 21–35 HST hingga panen. Pemantauan kepekatan larutan dilakukan menggunakan alat ukur TDS/EC meter.
- Penyulaman dilakukan untuk mengganti tanaman yang mati, rusak, atau tumbuh tidak normal. Kegiatan penyulaman dilakukan maksimal hingga 7–10 hari setelah tanam (HST).
- Penyiangan gulma dilakukan dengan membersihkan gulma yang tumbuh di sekitar instalasi hidroponik DFT.
- Pengendalian hama dan penyakit dilakukan secara mekanis dan kimiawi. Pengendalian mekanis dilakukan melalui sanitasi lingkungan, sedangkan pengendalian kimiawi dilakukan dengan penyemprotan insektisida atau fungisida sesuai sasaran hama dan penyakit. Pengendalian mekanis dilakukan melalui sanitasi lingkungan, sedangkan pengendalian kimiawi dilakukan dengan penyemprotan insektisida atau fungisida sesuai sasaran hama dan penyakit.
6. Panen dan Pascapanen
Pemanenan selada siomak dilakukan pada pagi atau sore hari saat suhu relatif rendah untuk menjaga kesegaran tanaman. Tanaman dipanen dengan cara mencabut dari netpot, kemudian dilakukan sortasi dengan membuang bagian daun yang rusak. Penanganan pascapanen bertujuan mempertahankan mutu dan kualitas selada sebelum dipasarkan melalui kerja sama dengan pihak retail dan supermarket.
Penerapan budidaya selada siomak sistem DFT di BBPP Lembang menunjukkan upaya nyata dalam menghadirkan teknologi pertanian yang mudah diterapkan, efisien, dan relevan dengan kebutuhan pengembangan SDM pertanian masa kini.
Catatan:
Ridho Al-Amin (penulis artikel) adalah salah satu mahasiswa dari UNS yang sedang Praktik Kerja Lapang (PKL) di BBPP Lembang