Bertani on Cloud, Kenalkan Peningkatan Nilai Tambah Pertanian untuk Kemandirian Ekonomi Perempuan
LEMBANG - Kementerian Pertanian, melalui Balai Besar Pelatihan Pertanian (BBPP) Lembang, menghadirkan narasumber dari Pusat Pelatihan Pertanian dan Perdesaan Swadaya (P4S) Raja Rasa Kabupaten Bandung Barat, pada kegiatan Bertani on Cloud (BoC) volume 338. Kegiatan dibuka oleh Kepala Balai, Ajat Jatnika, Kamis (22/1/2026).
Tema yang diangkat adalah Penguatan Nilai Tambah Pertanian dan Kemandirian Ekonomi Perempuan. Sebanyak 500 orang yang mengakses kegiatan ini melalui aplikasi zoom meeting dan 1.800 yang menyaksikan melalui live streaming youtube BBPP Lembang.
Menteri Pertanian (Mentan), Andi Amran Sulaiman, mengapresiasi peran perempuan dan terus mendorong perannya dalam membangun perekonomian Indonesia. "Ada 49 persen perempuan di Indonesia. Kita butuh banyak perempuan pengusaha untuk membangkitkan ekonomi Indonesia. Memberdayakan perempuan, juga berarti memberdayakan keluarga, memberdayakan generasi masa depan Indonesia," tutur Amran.
Senada dengan pernyataan Mentan Amran, Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian (BPPSDMP), Idha Widi Arsanti menegaskan pentingnya peran perempuan memperkuat rantai pasok pangan nasional dan mencapai swasembada pangan berkelanjutan.
Santi menyatakan bahwa investasi pada teknologi modern, pengolahan hasil, serta distribusi yang efisien oleh pengusaha wanita bisa mengurangi ketergantungan pada impor dan meningkatkan produksi pangan lokal.
Saat membuka kegiatan Bertani on Cloud volume 338, Kepala BBPP Lembang, Ajat Jatnika, menyampaikan, pembangunan pertanian nasional saat ini sangat ditentukan oleh kualitas sumber daya manusia dan memasuki fase transformasi pertanian dari cara tradisional dengan mengintegrasikan teknologi canggih, mekanisasi, dan sistem agribisnis modern untuk meningkatkan produktivitas, efisiensi, daya saing serta kesejahteraan petani dan untuk mengatasi tantangan global krisis pangan dan perubahan iklim".
Ajat mengatakan, Bertani on Cloud kali ini sejalan dengan arah kebijakan BPPSDMP untuk memperkuat peran penyuluh, P4S, dan kelembagaan petani sebagai penggerak transformasi ekonomi di perdesaan.
"P4S Raja Rasa dikelola oleh seorang wanita tangguh. Berkaitan dengan GEDSI (Gender, Equality, Disabilty, and Social Inclusion) maka pada BoC ini kami berharap kehadirannya menjadi narasumber tepat untuk berbagi praktik baik, memperkuat kapasitas, serta membangun jejaring antar penyuluh, P4S, dan kelompok tani di berbagai wilayah se-Indonesia.
Dipandu widyaiswara, narasumber menjelaskan kegiatan permagangan dan bisnis. P4S Raja Rasa yang diketuai oleh Yani Suryani, penggiat pertanian di sektor hilirisasi komoditas pangan dan juga menjadi penyuluh swadaya, melakukan usahatani bidang pengolahan hasil pertanian menjadi aneka olahan pangan. Produk unggulannya adalah comring yang berbahan dasar singkong. Produk lainnya bersama anggota kelompoknya diantaranya keripik singkong, keripik pisang, dan gula semut.
Untuk kegiatan permagangan, P4S Raja Rasa yang didirikan tahun 2022 hingga saat ini beranggotakan 30 orang petani. Giat melakukan pendampingan kepada kelompok tani dan KWT mulai dari identifikasi potensi wilayah, menggali permasalahan, mencari solusi dan memberi pelatihan secara swadaya karena sebagai penyuluh swadaya, juga berkomitmen ikut berkontribusi meningkatkan kompetensi SDM pertanian.
Sejalan dengan GEDSI, P4S Raja Rasa juga melibatkan petani yang memiliki keterbatasan (disabilitas) karena mempercayai bahwa dibalik kekurangan ada kelebihan yang bisa bermanfaat untuk diri dan masyarakat.
Pada sesi praktik, Yani dibantu pengelola P4S mempraktikkan pembuatan comring, mulai dari pengenalan alat dan bahan, proses penghalusan singkong, mencampurkan dengan bahan lainnya dan bumbu, mencetak dan menggorengnya hingga tingkat kematangan tertentu yang menghasilkan tekstur yang renyah.
Yani menyampaikan analisa usahatani sederhana, bahwa dari 3 kilogram singkong harganya Rp 3.000/kg singkong, bisa menghasilkan 1 kg comring yang dijual seharga Rp 65.000. Jika comring dikemas maka nilai jualnya semakin tinggi yaitu Rp 30.000/toples dengan berat produk. P4S Raja Rasa mampu memproduksi 1 - 1,5 ton comring per bulan bahkan saat peak season seperti hari raya Idul Fitri bisa memproduksi 2 ton comring.
P4S Raja Rasa mengawali bisnis olahan pangan comring dengan membuat business plan yaitu Business Model Canvas (BMC) sehingga dalam pelaksanaannya berjalan baik karena sudah direncanakan dengan matang. Comring ala P4S Raja Rasa sistem pemasarannya secara langsung ke berbagai segmentasi market baik warung, toko oleh-oleh bahkan bisa sampai ke luar negeri sebagai buah tangan.
Comring yang diproduksi P4S Raja Rasa merupakan hasil kerja keras pengelola P4S, berkolaborasi dengan anggota KWT lainnya dan dinas terkait produk yaitu Dinas Perindustrian, Dinas Koperasi dan UMKM, Dinas Kesehatan, Salman ITB sehingga di label produk sangat lengkap ada PIRT, logo halal, nilai gizi, dan juga ada nomor telepon pengelola P4S Raja Rasa sehingga menjadi sarana promosi yang ampuh untuk menarik minat pembeli membeli dan terus membeli produk comring produksi P4S Raja Rasa.
Yani juga membagikan tipsnya bisa mengembangkan terus olahan comring karena terus mengupgrade diri dengan belajar, mengikuti berbagai forum komunikasi, mengelola media sosial untuk sarana promosi, komunikasi, dan mengetahui perkembangan teknologi terkini.
Penguatan nilai tambah di bidang pertanian pintu strategis untuk kemandirian ekonomi perempuan. Melaluipraktik nyata dan pengalaman di lapangan, perempuan bisa jadi penggerak ekonomi, pencipta inovasi, dan penguatan kelembagaan. Pendekatan inklusif mampu memberi dampak ekomoni yang nyata bagi keluarga dan masyarakat sekitar. (yoko/chetty)