Kementan Gaspol! 531 Penyuluh di 5 Provinsi Dibekali Jurus Pertanian Modern PM-AAS

Lembang – Transformasi pertanian menuju sistem budidaya modern terus dipacu Kementerian Pertanian (Kementan). Sebanyak 531 penyuluh pertanian dari lima provinsi mengikuti Training of Trainers (ToT) Pertanian Modern–Advanced Agricultural System (PM-AAS) yang diselenggarakan Balai Besar Pelatihan Pertanian (BBPP) Lembang.

Peserta ToT terdiri atas Ketua Kelompok Substansi, Ketua Tim Kerja, dan Koordinator Penyuluh dari wilayah kerja BBPP Lembang, meliputi Provinsi Riau, Kepulauan Riau, Kepulauan Bangka Belitung, Sumatera Barat, dan Banten. Kegiatan berlangsung secara daring selama tiga hari, 29–31 Juli 2026.

Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman terus mendorong percepatan implementasi pertanian modern PM-AAS sebagai strategi untuk meningkatkan produktivitas sekaligus kesejahteraan petani.

"Akselerasi swasembada pangan tidak hanya mengejar peningkatan produksi, tetapi juga memastikan petani memperoleh keuntungan yang jauh lebih besar melalui transformasi sistem budidaya," ujar Amran.

Menurut Amran, transformasi pertanian modern harus bermuara pada peningkatan kesejahteraan petani. Karena itu, penguatan kapasitas sumber daya manusia pertanian menjadi bagian penting dalam mempercepat penerapan teknologi di tingkat lapangan.

Sejalan dengan hal tersebut, Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pertanian (BPPSDMP),Idha Widi Arsanti  melalui Kepala Pusat Pelatihan Pertanian, Tedi Dirhamsyah saat membuka ToT PM-AAS pada Rabu (29/7/2026), menegaskan pentingnya peran penyuluh dalam mengawal transformasi pertanian modern.

"Penyuluh pertanian memiliki peran strategis sebagai agen perubahan dalam mengawal implementasi PM-AAS. Melalui ToT ini, diharapkan para peserta memiliki pemahaman yang utuh mengenai teknologi budidaya pertanian modern sehingga mampu mengakselerasi penerapannya di wilayah masing-masing," ujarnya.

Pelaksana Tugas Kepala BBPP Lembang, P. Adi Destriadi Sutisna, mengajak seluruh peserta untuk memperkuat kolaborasi dalam menghadapi berbagai tantangan penerapan pertanian modern di lapangan.

"Mendukung keberhasilan PM-AAS, mari kita berkolaborasi menghadapi permasalahan di lapangan agar produktivitas padi meningkat," katanya.

Selama pelatihan, peserta mendapatkan materi mengenai teknologi budidaya pertanian modern, mulai dari persiapan lahan dan benih, pemilihan varietas, teknik dan pola tanam, hingga pemeliharaan tanaman secara berkelanjutan.

Materi lainnya mencakup pemupukan spesifik lokasi, pengelolaan air, serta pengendalian organisme pengganggu tanaman (OPT). Peserta juga dibekali pengetahuan mengenai penerapan pertanian presisi berbasis digital farming dan praktik terpadu pertanian modern melalui teknologi panen dan pascapanen.

Sebagai bagian dari penguatan kompetensi, peserta juga mendapat penugasan untuk membuat video yang mendokumentasikan penerapan PM-AAS di wilayah masing-masing. Penugasan ini diharapkan dapat mendorong peserta untuk menerjemahkan pengetahuan yang diperoleh selama ToT ke dalam praktik nyata di lapangan.

Melalui ToT PM-AAS, Kementan mendorong penyuluh pertanian menjadi motor penggerak transformasi pertanian modern di daerah. Dengan meningkatnya kapasitas penyuluh dan semakin luasnya adopsi teknologi, penerapan PM-AAS diharapkan mampu meningkatkan produktivitas padi, efisiensi usaha tani, dan kesejahteraan petani, sekaligus memperkuat upaya mewujudkan swasembada pangan yang berkelanjutan.