Kementan Dorong Pertanian Terpadu, P4S Ternak Jaya Jadi Contoh Sukses Sistem Zero Waste

Lembang  – Kementerian Pertanian (Kementan) terus mendorong penerapan pertanian terpadu (integrated farming) sebagai strategi meningkatkan produktivitas sekaligus mewujudkan swasembada pangan nasional. Model ini dinilai mampu menekan biaya produksi dan meningkatkan pendapatan petani melalui pemanfaatan sumber daya secara optimal dan berkelanjutan.



Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman, menegaskan pentingnya kemandirian di sektor pangan sebagai bagian dari kekuatan nasional.

Sejalan dengan itu, Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pertanian (BPPSDMP), Idha Widi Arsanti, menyampaikan bahwa berbagai upaya terus dilakukan untuk meningkatkan produktivitas pertanian, termasuk melalui inovasi dan pemanfaatan teknologi.

“Kementerian Pertanian mendorong intensifikasi melalui peningkatan produktivitas, penggunaan benih unggul, serta penerapan teknologi dan inovasi,” jelasnya.

Salah satu contoh penerapan pertanian terpadu ditunjukkan oleh Pusat Pelatihan Pertanian dan Pedesaan Swadaya (P4S) Ternak Jaya. Sistem ini mengintegrasikan sektor pertanian dan peternakan, dengan komoditas utama padi, jagung, serta ternak sapi dan kambing.

Ketua P4S Ternak Jaya, Roja’i, menjelaskan bahwa konsep utama integrated farming adalah memanfaatkan limbah menjadi sumber daya bernilai ekonomi melalui pendekatan zero waste.

“Keuntungan yang kami rasakan adalah biaya produksi bisa ditekan dan hasil usaha meningkat,” ujarnya.

Limbah peternakan, seperti feses dan urin, diolah menjadi pupuk organik padat dan cair. Selain itu, limbah tersebut juga dimanfaatkan sebagai pestisida nabati karena memiliki sifat antiparasit dan antibakteri.

Roja’i juga mengembangkan probiotik dari rumen sapi untuk mengurangi bau amonia dan gas metana, sekaligus meningkatkan kualitas lingkungan peternakan.

Tak hanya itu, inovasi lain yang dikembangkan adalah pembuatan fungisida berbahan dasar belerang untuk mengatasi serangan jamur pada tanaman, terutama saat kondisi cuaca ekstrem. Ia mengombinasikan bahan alami tersebut dengan pupuk cair berbasis urin ternak untuk meningkatkan ketahanan tanaman.

Di bidang peternakan, Roja’i juga meracik jamu herbal dari bahan alami seperti jahe, temulawak, serai, dan daun sirih yang difermentasi untuk menjaga kesehatan ternak.

Menurutnya, kunci utama dari sistem pertanian terpadu adalah efisiensi dan peningkatan nilai tambah.

“Intinya bagaimana pengeluaran petani berkurang, tetapi pendapatan meningkat,” tegasnya saat sharing pada kegiatan BOC, Kamis (16/04/26).

Kepala BBPP Lembang, Ajat Jatnika, menilai bahwa konsep integrated farming merupakan solusi nyata menuju kemandirian petani.

“Dengan pendekatan ekonomi sirkular dan optimalisasi hubungan antara pertanian dan peternakan, sistem ini memberikan keuntungan berkelanjutan bagi petani,” ujarnya.

Penerapan pertanian terpadu diharapkan dapat menjadi model yang direplikasi secara luas, sehingga mampu memperkuat ketahanan pangan sekaligus meningkatkan kesejahteraan petani di berbagai daerah.