Regenerasi Petani Berbasis PKL dan P4S, Kementan Perkuat Lahirnya Petani Muda Unggul

Program PKL ini tidak hanya memberikan pengalaman teknis budidaya, tetapi juga memperkenalkan model pembelajaran partisipatif yang selama ini dikembangkan di P4S, di mana petani maju berperan sebagai mentor bagi generasi muda. Dengan pendekatan ini, proses transfer pengetahuan menjadi lebih aplikatif, kontekstual, dan sesuai kebutuhan lapangan.

 

Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman, dalam berbagai kesempatan menegaskan bahwa generasi muda memiliki peran penting dalam transformasi sektor pertanian nasional.

 

“Dengan karakter yang kuat, jujur, disiplin, dan pekerja keras, pemuda Indonesia dapat menjadi garda terdepan untuk mewujudkan swasembada pangan dan menjadikan Indonesia lumbung pangan dunia,” ujarnya.

 

Senada dengan itu, Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian (BPPSDMP), Idha Widi Arsanti, menekankan bahwa keberadaan P4S menjadi salah satu pilar penting dalam mendukung regenerasi petani.

 

“P4S memiliki peran strategis sebagai pusat pembelajaran berbasis praktik yang langsung dikelola oleh petani. Ini menjadi jembatan penting bagi generasi muda untuk belajar sekaligus terjun langsung ke dunia usaha pertanian,” jelasnya.

 

Kepala BBPP Lembang, Ajat Jatnika, menyampaikan bahwa integrasi PKL dengan P4S memberikan nilai tambah signifikan bagi peserta didik.

 

“Kami tidak hanya membekali siswa dengan keterampilan teknis, tetapi juga membuka wawasan kewirausahaan melalui jejaring P4S. Ini penting agar mereka tidak hanya siap kerja, tetapi juga siap menjadi pelaku usaha pertanian,” ungkapnya Selasa (31/03/26).

 

Salah satu implementasi nyata terlihat dari kegiatan PKL yang diikuti siswa SMKN 2 Cilaku Cianjur. Selama tiga bulan, mereka mendapatkan pembelajaran langsung dari widyaiswara serta praktik lapangan yang sejalan dengan pola pelatihan di P4S, mulai dari budidaya hingga pengelolaan agribisnis.

 

Paris Ambar Rosyadi bersama rekannya Moch Fazrin Algipari dan Rizal Gunawan mendalami budidaya selada keriting, sementara Heri Hermawan dan Dzikran Maulana fokus pada budidaya melon di screen house hidroponik otomatis. Selain itu, mereka juga dikenalkan pada konsep agripreneurship yang menjadi ciri khas pembelajaran di P4S.

 

Sebagai bagian dari evaluasi, para peserta mempresentasikan hasil pembelajaran mereka di hadapan widyaiswara dan peserta lainnya. Kegiatan ini sekaligus melatih kepercayaan diri dan kemampuan komunikasi, yang juga menjadi kompetensi penting dalam pengembangan SDM pertanian modern.

 

Paris mengungkapkan bahwa pengalaman PKL yang terintegrasi dengan pendekatan P4S memberikan pemahaman yang lebih menyeluruh.

 

“Kami tidak hanya belajar budidaya, tetapi juga bagaimana mengelola usaha pertanian. Ini sangat bermanfaat untuk masa depan kami,” ujarnya.

 

Melalui sinergi antara PKL dan P4S, Kementerian Pertanian optimistis dapat mempercepat lahirnya generasi petani muda yang adaptif, inovatif, dan berdaya saing, sekaligus memperkuat fondasi menuju swasembada pangan berkelanjutan.