Lewat Pelatihan, Kementan Siapkan Pemuda Tani Adaptif dan Berdaya Saing

Pangandaran – Kementerian Pertanian (Kementan) terus memperkuat upaya mewujudkan swasembada pangan berkelanjutan melalui peningkatan kapasitas generasi muda di sektor pertanian. Salah satu langkah konkret dilakukan melalui Pelatihan bagi Pemuda Tani yang diselenggarakan Balai Besar Pelatihan Pertanian (BBPP) Lembang pada 19–21 Mei 2026 di Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) Kecamatan Pangandaran, Kabupaten Pangandaran.


Kegiatan ini menjadi bagian dari strategi regenerasi petani sekaligus mendorong lahirnya wirausahawan muda pertanian yang adaptif terhadap perkembangan teknologi dan peluang bisnis agribisnis. Sebanyak 55 pemuda tani dari berbagai desa di Kabupaten Pangandaran mengikuti pelatihan tersebut.

Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman, menegaskan bahwa keberhasilan swasembada pangan tidak hanya ditentukan oleh peningkatan produksi, tetapi juga kualitas sumber daya manusia pertanian yang mampu mengelola usaha tani secara modern dan berkelanjutan.

"Kompetensi SDM harus terus ditingkatkan. Ini menjadi kunci untuk mencapai swasembada pangan berkelanjutan, produktivitas tinggi, dan modernisasi pertanian," tegas Amran.

Senada, Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian (BPPSDMP), Idha Widi Arsanti, menyampaikan bahwa penguatan kompetensi generasi muda menjadi faktor penting dalam meningkatkan produktivitas sekaligus mempercepat adopsi inovasi teknologi di sektor pertanian.

Sementara itu, Kepala BBPP Lembang, Ajat Jatnika, berharap seluruh peserta dapat mengikuti pelatihan secara disiplin, aktif berdiskusi, serta memanfaatkan kesempatan untuk memperluas jejaring dan kolaborasi antar pemuda tani.

"Saya mengajak seluruh peserta menjadi agen perubahan di daerah masing-masing. Tunjukkan bahwa pertanian merupakan sektor yang modern, menjanjikan, dan memiliki masa depan cerah. Generasi muda harus mampu menjadi motor penggerak pembangunan pertanian Indonesia menuju swasembada pangan yang maju, mandiri, dan berkelanjutan," ujar Ajat.

Selama pelatihan, peserta memperoleh materi dari pengelola Pusat Pelatihan Pertanian dan Perdesaan Swadaya (P4S), perbankan, dan perusahaan swasta, meliputi kebijakan dan peran pemuda tani dalam pembangunan pertanian, analisis kelayakan usaha tani, nilai tambah dan akses permodalan Kredit Usaha Rakyat (KUR), digital marketing, pengelolaan rantai pasok (supply chain), inovasi teknologi budidaya, hingga penerapan smart farming di sektor pertanian dan peternakan.

Tidak hanya teori, peserta juga mengikuti sesi praktik pembuatan instalasi hidroponik sistem deep flow technique (DFT) menggunakan bahan utama pipa paralon dan kayu. Selain itu, peserta dilatih teknik pengemasan sayuran yang baik guna meningkatkan nilai tambah produk pertanian.

Salah satu peserta, Firgi Fajar Riyanto dari Kelompok Tani Argo Baitur Munawaroh, mengaku mendapatkan banyak manfaat selama mengikuti pelatihan.

"Senang sekali mengikuti pelatihan ini karena banyak ilmu yang diperoleh selama tiga hari, mulai dari pemasaran, teknik pengemasan sayuran, hingga teknologi smart farming hidroponik. Hidroponik ternyata memberi peluang usaha yang menjanjikan dan dapat mendukung program pemerintah, seperti Makan Bergizi Gratis, sebagai pemasok sayuran," ujarnya.

Peserta lainnya juga menilai pelatihan ini menjadi wadah memperluas kemitraan dengan sesama petani muda. Mereka berkomitmen untuk menjadi pelopor pertanian di desa masing-masing melalui pengembangan agribisnis yang lebih modern dan berkelanjutan.